Salva Yurivan Saragih, Pemilik PT Tata Karya Gemilang: Bisnis bersih-bersih pembawa hoki

Salva Yurivan Saragih, Pemilik PT Tata Karya Gemilang

Berikut di bawah ini adalah kisah sukses pengusaha home cleaning - cleaning service - building maintenance - facility service Bapak Salva Yurivan Saragih. Mudah - mudahan bisa di jadikan motivasi bagi kita yang ingin memulai usaha terutama usaha home cleaning atau pun cleaning service.

Di rumah, tak sekalipun Salva Yurivan Seragih pernah melakukan kegiatan bersih-bersih. Siapa sangka justru dari kegiatan umumnya dilakukan oleh para pembantu rumah tangga itu dia memperoleh rezeki.

Salva Yurivan Saragih

Salva Yurivan Saragih

THINK BIG, START small, and move fast. Inilah kalimat ‘sakti’ yang selalu diusung Salva Yurivan Saragih dalam menjalani hidup yang belum lagi genap 30 tahun. Namun dalam usia yang masih muda, lakon hidupnya telah panjang den bisa bikin orang yang lebih tua darinya geleng-geleng kepala. Bayangkan, pemuda kelahiran Yogyakarta tahun 1983 itu sudah memiliki perusahaan sendiri yang menghasilkan keuntungan bersih ratusan juta rupiah setiap tahunnya. Dan, hasil itu diperolehnya dari bisnis yang zaman dulu belum ada karena bisa dikerjakan sendiri, yaitu bersih-bersih alias cleaning service.

Sebagian orang mungkin tak pernah berpikir bahwa kegiatan bersih-bersih mampu menjadi lahan mencari nafkah yang menguntungkan. Namun, bila otak sedikit diputar, tekad dibulatkan, apa yang sepertinya tak mungkin bisa menjelma menjadi realitas. Demikian pula Salva dengan PT. Tata Karya Gemilang miliknya.

Salva Yurivan Saragih, Pemilik PT Tata Karya Gemilang

Salva Yurivan Saragih, Pemilik PT Tata Karya Gemilang

Berawal dari gagasan untuk membersihkan sekolah–pekerjaan yang di rumah pun tak pernah ia lakukan sebelumnya–ia mempunyai gambaran apa yang menjadi keinginannya lima tahun ke depan. “Saya ingin perusahaan saga mampu menyerap tenaga kerja 60 ribu orang, dikelola 300 manager, memiliki aset Rp20 triliun, Bserta menjadi perusahaan kelas dunia yang memimpin pasar di Asia untuk jasa building maintenance,” ucap Salva mantap. Bagaimana jebolan Universitas Gajah Mada tahun 2007 ini bisa memiliki visi yang demikian spektakuler? Sepertinya bukan pepesan kosong bila menilik cerita hidupnya.

 

AWAL YANG SERBA MINIM

Perjalanan Salva menapaki bisnisnya cukup berliku. Sebelum menetapkan langkah menjadi wirausahawan di bidang cleaning service, beberapa jenis usaha pernah digelutinya. Baik semasa di SMU maupun saat duduk di bangku perguruan tinggi, hingga akhirnya ia merasa mantap dengan pilihan menjadi “tukang bersih-bersih” berdasi.

 

Jeli melihat peluang bisnis

Gemilang, demikian ia sering menyebut singkat nama perusahaannya, berdiri pada 2007. Itu pun karena dipaksa keadaan, saat dia wajib mempunyai usaha dengan badan hukum karena tuntutan klien pertamanya–direktur sekolah kesehalan di kota Solo, yang ingin memakai jasanya dengan sistem kontrak. Untungnya, Salva yang awalnya hanya berusaha kecil-kecilan itu memiliki semangat tinggi. Segala urusan legalitas perusahaan pun cepat ia urus. Kontrak pertama ia raih pada Januari 2007 dengan nominal Rp45 juta untuk jangka waktu kerja enam bulan. Tugasnya, membersihkan gedung rektorat sekolah tersebut.

Kontrak itu membuat Salva langsung merekrut empat orang karyawan. peralatan dan obat pembersih segera ia beli. Dari mana modal didapat? la tak kurang akal. Satu-satunya mobil miliknya–Honda Nouva tahun 1988, hadiah dari orangtua setelah diterima di UGM–dilego senilai Rp30 juta. Mungkin karena mobil kesayangannya jadi taruhan, komitmen Salva menekuni bisnis ini menjadi tinggi. Terbukti, kontrak kerja pertamanya menghasilkan profit Rp5 juta per bulan. Angka yang besar dibanding nilai kontrak per bulan. “Saya menyadari ada kesalahan penawaran harga yang terlalu mahal. Tetapi karena mereka setuju, saya diamkan saja. Sebagai gantinya saya berikan pelayanan ekstra kepada mereka,” kata Salva, polos.

Kepolosan itulah yang sebenarnya menjadi ciri khas sekaligus kunci sukses Salva. Cita-cita boleh tinggi, namun seorang wirausahawan harus mampu berpikir dengan sederhana. Misalnya ketika memutuskan untuk berusaha di bidang bersih-bersih kendati pengetahuan dan pengalamannya nol. Itu karena tren di Yogyakarta–sejak tahun 2005–yang tengah dipenuhi perumahan baru. Sayangnya, banyak pengembang yang teledor dengan menyerahterimakan rumah dalam keadaan belum dibersihkan setelah finishing. Akibatnya, banyak pembeli yang mengeluh.

 

BIODATA

SALVA YURIVAN SARAGIH

Yogyakarta, 14Juni 1983

Pendidikan

S1 Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Nama Usaha

PT. Tata Karya Gemilang (bisnis alih daya jasa cleaning service, gardening, business support service)

Website: http://www.gemilang.co.id

Alarnat: JI. Sukun Mataram Bumi Sejahtera No. 3 Condong Catur Yogyakarta 55281

Telp: 0274 889981

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

“Dalam pikiran saya, itu adalah peluang bisnis,” kata Salva. Maka itulah, dengan bekal modal Rp1 juta, berbekal peralatan kebersihan kain pet, sapu, dan obat pembersih milik ibunya, Salva pun memberanikan diri memulai usaha ini. Usahanya ketika itu diberi nama tidak jauh dari namanya sendiri: Va Home Cleaning. Klien perdananya adalah rumah yang baru dibeli temannya sendiri. Itu pun dikerjakan secara gratis, namun dengan syarat si teman mau mereferensikan usahanya.

Anak muda yang awalnya punya hobi otomotif dan sering nongkrong di bengkel itu pada awalnya bingung juga. Bagaimana cara membersihkan kotoran yang menempel keras di lantai, dinding dan kamar mandi, atau ruangan? Tapi, semangatnya yang menggebu melahirkan berbagai akal. la belajar dari pakarnya. Caranya pun ‘ajaib’ dan ‘polos’. Salva sengaja menggunakan jasa kompetitornya untuk membersihkan rumahnya sendiri. Segala kegiatan bersih-bersih rumahnya—yang sebelumnya sengaja dikotori itu—direkamnya. Segala informasi yang diperoleh segera ia pelajari. Saat kru pembersih istirahal makan Siang, dengan Segala siasat Salva berhasil membongkar peralatan dan bahan kimia yang dibawa si pembersih profesional itu. Isinya ia catat, lengkap dengan merek dagangnya. “Tapi saya tidak mencuri apa pun, hanya mencuri ilmunya,” tambah Salva, lagi-lagi polos.

 

Kreatif mencari ilmu untuk memperdalam bisnisnya.

 

“Mengawali bisnis ini tentu tak semudah yang dibayangkan. Tak setiap hari datang order pekerjaan. Belum lagi lokasi setiap pekerjaan yang saling berjauhan, yang berarti harus memboyong segala peralatan kerja. Untung saat itu karyawan digaji dengan sistem upah harian. Sehingga biaya operasional tidak terlalu berat,” kenangnya.

Supaya bisnis tidak mengganggu kegiatannya sebagai mahasiswa, Salva mengatur waktu kerjanya. Semua negosiasi ia lakukan selepas kuliah. Karyawannya yang semula hanya satu, sertambah menjadi empat orang. Setiap kali, Salva mengawasi pekerjaan karyawannya minimal tiga jam sebelum ditinggalkannya. Untuk urusan administrasi, ia mulai dari hal terkecil dan sederhana; kantor yang seadanya, dua komputer, satu printer, dan satu mesin faksimili. Juga satu mesin polisher. Semua pekerjaan kantor dilakukannya sendiri, kedisiplinan yang terus terjaga.

 

DARI HOME SERVICE KE CLEANING SERVICE

Tidak puas dari satu kompetitor, Salva terus berburu ilmu. Sasarannya adalah kompetitor yang biasa menangani hotel-hotel dan apartemen. Meski sempat diusir pihak keamanan hotel, Salva tak putus asa. Setelah usaha ke sana-sini, akhirnya ia bertemu juga dengan seorang housekeeper sebuah apartemen—Dinia, yang mau mengajari Salva tentang seluk-beluk usaha bersih-bersih. Dia pun segera menyerap ilmu dan langsung praktik. Mulai dari satu rumah ke rumah lainnya, dari pekerjaan satu hari hingga sepekan, ia lakoni. Yang penting baginya adalah mendapat variasi pekerjaan dan memecahkan segala masalah.

Sejak muda pandai menjalin network, hingga ia mudah mencari peluang usaha yang prospektif

Tahun 2007 Salva mengubah konsep bisnisnya dari home cleaning menjadi cleaning service. Dengan demikian, bisnisnya yang semula bersifat B2C (business-to-consumer), sekarang berubah menjadi B2B (business-to-business). dngan demikian, penghasilan perusahaan relatif lebih stabil, profit pun lebih pasti didapat. Kalau hanya mengandalkan order dari rumah ke rumah, penghasilan tiap bulan tidak tetap dan tidak dapat dipastikan.

Salva juga menyadari hal penting lain, bahwa bisnisnya adalah bisnis jasa. Selain hasil bagus dan sesuai dengan keinginan klien, pelayanan prima pun harus didahulukan. Karenanya, seluruh karyawan dilatih berpenampilan rapi, senyum, salam, belajar mengucapkan selamat pagi, terima kasih, dan mongatur tutur kata berbicara dengan klien. Sedemikian detailnya pengajaran yang diterapkan Salva kepada karyawannya, soal pakaian dan bau badan pun disinggungnya. la tak mau klien tak senang karena bau tak sedap tercium dari tubuh karyawannya.

Namun, konsep baru menimbulkan pula masalah baru. “Gemilang banyak menghadapi masalah. Mulai dari mencari supplier, pembuatan standard operational procedure (SOP), tingginya angka keluar masuk karyawan, hingga komplain dari klien karena pekerjaan karyawan yang terlalu lambat,” kenang Salva, “Mencari karyawan pengganti pun tidak mudah. Mungkin orang mau melamar, tapi melihat kantor saya kecil, mereka mengurungkan niat bergabung dengan Gemilang. Mereka pikir mesa depan tidak terjamin.”

Keadaan itu kadang melemahkannya yang ingin memulai sesuatu dari kecil. Betapa tergodanya Salva untuk langsung mempersiapkan lompatan raksasa. “Tapi saya percaya perusahaan besar pasti dimulai dari perusahaan kecil,” Salva menceritakan pergulatan batinnya.

Memperoleh pekerjaan dari bisnis jenis B2B memang tidak secepat B2C. Ada beberapa proses yang perlu dilewati, seperti mencari data calon pelanggan (browsing), keliling kota (danvassing), serta menjual jasa lewat telpon (sales call). Ketika ada calon klien yang tertarik dengan Gemilang, proses kesepakatannya cukup panjang. Ini dimulai dari pengiriman proposal, survei lokasi, pembuatan penawaran harga, presentasi produk jasa, negosiasi, sampai mobilisasi. Kadang, proses ini bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Namun, dengan kesungguhan, larnbat laun Hama Gemilang sebagai perusahaan bersih-bersih menjadi terpercaya dan dikenal orang. Bicara soal kebersihan, banyak orang di Yogyakarta akan langsung teringat kepadanya.

Memiliki visi jauh ke depan.

 

JATUH 10 KALI, BANGKIT 11 KALI

Bahwa kini Salva berhasil membawa Gemilang meniti sukses, sebenarnya tak ada yang perlu diherankan. Rekam jejak anak muda ini memang penuh dengan kegiatan bisnis sejak ia masih berusia 19 tahun. Dengan modal Rp150 ribu, di sekolahnya dulu—SMU Kolese De Britto—Salva sudah berjualan stiker dan kaos dengan desain logo sekolahnya. la mengerjakannya tanpa rasa malu karena dagangannya dianggap mahal. Tapi, senangnya juga bukan kepalang ketika hasil kelilingnya berdagang ke kelas-kelas itu berhasil.

Lalu, ia juga pernah mendirikan band gara-gara hobi bermain musik. Band beraliran ska waktu itu cukup digandrungi, show di sekolah dan kampus pun dijalaninya. “Saya merasakan nikmatnya mempunyai uang hasil keringat sendiri,” kata Salva. Pada 2001, melalui perjuangan membagi waktu, belajar, bisnis, dan band, Salva lulus SMU dengan nilai pas-pasan.

Motivasinya yang tinggi membuat Salva berniat meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Dengan bangga, ia diterima di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada, padahal fakultas pilihan pertamanya adalah jurusan ilmu kumputer, Sejak September 2001, Salva pun mulai sibuk kuliah. Tapi, memasuki semester kedua, Salva mulai goyah. Hobi baru di bidang otomotif mulai membuaynya sibuk. Sepulang kuliah, Salva muda sering menghabiskan waktu di jalan protokol dan bengkel-bengkel mobil. Salva pun meraba ada peluang bisnis di dunia otomotif.

Di kotanya saat itu belum ada wadah untuk menampung orang-orang yang hobi melakukan modifikasi otomotif. Dia lantas membentuk usaha event organizer untuk menyelenggarakan lomba kreasi modifikasi otomotif. Bersama temannya yang juga pemilik bengkel, berdirilah EO, “Auto 66”. Dengan modal dari orangtuanya sebesar Rp10 juta yang harus dikembalikan itu, Salva bersama parttner lainnya menggelar kontes modifikasi mobil pertama dan terbesar di Jawa tengah dan Yogyakarta.

Kontes besar yang memakan total biaya Rp40 juta itu menuai sukses. Peminat lomba berjubel, stand-stand juga ramai. Alhasil, Salva dan partnernya mengantongi keuntungan Rp25 juta. Sukses ini membuat mereka kembali menyelenggarakan event otomotif sebulan kemudian. Cara berbisnis mereka jelas lebih pandai, yaitu dengan mencari sponsor. Sebuah brand terkenal berhasil digaet untuk bermitra. “Nilai uangnya sih kecil, tapi branding-nya hebat sekali. Di mana-mana ada Man tentang event kami, dibiayai oleh sponsor tersebut,” kata Salva, yang ketika lulus kuliah sengaja membingkai ijazahnya supaya ia tidak tergoda untuk melamar pekerjaan. Berkat pengumuman di mana-mana, event yang diselenggarakan Salva dan partnernya menjadi happening yang jarang terjadi.

Namun, karena kurang perhitungan, tempat yang digunakan tak mampu menampung pengunjung. Yang terjadi kekacauan, kemacetan, bahkan hujan membuat situasi sertambah kacau. Bukannya untung, mereka malah rugi Rp14 juta. Sudah rugi, Salva ternyata ditipu pula oleh mitra bisnisnya, yang ternyata menerima sejumlah uang dari sponsor tanpa sepengetahuannya. Konflik muncul. Akhirnya kerja sama itu berakhir setelah berjalan setahun.

Gagal di bisnis EO tak membuat Salva putus asa. Enam bulan berikutnya ia sudah melihat peluang bisnis lainnya, masih di bidang otomotif. Salva bergabung dengan rekannya yang jago membuat desain kaos, kemeja, topi, pin, dan stiker logo klub untuk ditempel di mobil. Modalnya, Rp10 juta, yang kembali dia dapatkan dari orangtuanya. Hasilnya lumayan, setelah berjalan enam bulan, profit Rp2 juta per orang bisa dikantongi. Sayangnya, setelah berjalan setahun, kembali muncul masalah. Lagi-lagi ia dicurangi mitra bisnis. Beberapa kali partner-nya kepergok menerima order secara diam-diam.

 

Tekun dalam berbisnis.

 

“Setiap order dikerjakan sendiri dan diproduksikan ke tempat lain. Waktu saya konfrontasi, dia malah pindah kota, pulang kampung. Saya ditinggal dengan laporan keuangan yang menyatakan bahwa kami masih berutang Rp8 juta kepada supplier. Gagal lagi usaha saya,” kata Salva.

Tapi, memang tak mudah membuat Salva kapok. Meski sudah dua tahun tak fokus pada kuliahnya, ia masih ingin terus mencari peluang usaha yang lain. Untunglah Salva banyak bergaul dengan pengusaha-pengusaha muda. Dari obrolannya itu Salva bisa sharing soal bisnis.

 

Untuk mendukung mimpi saya, berarti bisnis ini harus dikendalikan oleh orang-orang atau SDM yang profesional pula. Maka muncullah ide untuk mencari karyawan dari kompetitor yang memiliki market share terbesar di indonesia. Setelah memperoleh karyawan tersebut, saya arahkan dia untuk membuat sistem dan standar yang akan menjadi dasar bagi karyawan lain.

 

TESTIMONI

Q: Apakah bisnis ini berhubungan dengan sesuatu yang Anda senangi?

A: Bisnis Gemilang tidak ada hubungannya dengan hobi saya. Justru bisnis ini sangat bertentangan dengan apa yang saya lakukan setiap hari. Bisa dipastikan, sebelum membuka bisnis bersih-bersih saya sangat jarang sekali membersihkan kamar sendiri, apalagi rumah. Pegang sapu dan pel saja mungkin sebulan sekali, karena semuanya sudah dikerjakan PRT. Tetapi semenjak menggeluti bisnis ini, sekarang kamar kotor sedikit sudah saya bersihkan sendiri. Didikan orangtua untuk selalu hidup bersih, menata rapi pakaian dan barang, teratur, menyingkirkan barang yang tidak terpakai, dan disiplin, telah membentuk pribadi saya untuk mampu sertahan dalam bisnis ini.

Q: Adakah keterlibatan keluarga atau teman dekat?

A: Karena pernah ditipu oleh teman, saya tidak berminat alias kapok bekerja sama dengan teman. Saya adalah pemilik tunggal, pendiri, dan pelaksana bisnis Gemilang. Tidak ada campur tangan orangtua/keluarga dekat dalam mengambil keputusan bisnis, mereka selalu support untuk terus bekerja keras, memberikan ide mengelola karyawan, dan terus berdoa. Saat ini memang saya tidak mempekerjakan keluarga atau saudara, karena saya tidak ingin ada konflik keluarga akibat pekerjaan kantor. Dan saya pun tidak akan pernah bisa memecat keluarga kalau mereka tidak bekerja sesuai standar.

 

TIPS

HUKUM WIRAUSAHA #8

MENGENALI PELUANG UNTUK KITA

 

“Kita mendapatkan makanan bukan dari kemurahan hali para tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti, tetapi dari penghargaan mereka terhadap minat, mereka sendiri.”

Adam Smith

 

 

PADA DASARNYA, SETIAP masalah adalah peluang. Kita dapat mengenali adanya Peluang di sekitar kita dengan melihat minat kita saat menghadapi dan merasa tertarik pada suatu masalah. Dan, karena ada begitu banyak masalah di sekitar kita, berarti tersedia pula peluang yang cukup banyak. Hanya saja, peluang itu ada yang sudah ditemukan oleh orang lain atau masalahnya sudah dapat diatasi oleh orang lain, tapi, masih banyak masalah yang belum ditemukan cara mengatasinya. Dalam hal ini Salva menemukan peluangnya saat ia mengantarkan temannya membeli rumah. Dia menemukan masalah bahwa rumah yang beli belum berada dalam kondisi bersih saat diserahterimakan kepada pembeli. Untuk mengenali peluang, beberapa tips berikut ini dapat menjadi acuan:

  • Peluang tidak bisa ditangkap kalau kita hanya membicarakannya saja. Bahkan menjanjikan bahwa kita dapat membuat suatu produk lebih baik pun bukanlah  masalah, karena belum menjadi peluang. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa peluang yang baik adalah peluang yang dapat ditangkap. Atau dengan kata lain, masalah yang dapat kita atasi.
  • Peluang itu dapat timbul dengan sendirinya kalau kita telah mempersiapkan diri untuk menangkapnya. Dengan kata lain, masalah akan menjadi peluang kalau manusia mempersiapkan diri untuk mendapatkannya. Dalam hal ini, Salva mempersiapkan diri dengan memanggil orang untuk membersihkan rumahnya dan mempelajari alat dan bahan yang dipakai serta bagaimana cara membersihkan bangunan secara profesional.
  • Melakukan hijrah, dari yang sifatnya perorangan menjadi berbadan hukum. Hijrah juga bisa berarti ekspansi, dari usaha yang tadinya dikerjakan sendiri menjadi usaha yang dikerjakan oleh banyak orang (pegawai). Dari usaha yang awalnya tidak memiliki manajer, kini berubah memanfaatkan tenaga profesional untuk mengelola karyawan dan usaha. Atau, dari pasar rumah menjadi pasar instansi (misalnya hotel, rumah sakit, dan sebagainya). Juga, dari tadinya B2C menjadi B2B, dari income yang tidak stabil, menjadi stabil, dari no service menjadi service excellence.
  • Temukan peluang-peluang baru untuk menjadikan perusahaan tumbuh dan naik kelas, yaitu dengan mengeksplorasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan perusahaan. Bisa jadi masalah yang kita temukan berada di area kepegawaian, keuangan, sistem, pelayanan, pengadaan barang, dan sebagainya. Temukanlah dan perbaikilah.

 

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

BAGI ANDA YANG INGIN MEMBUKA USAHA HOME CLEANING SERVICE SILAHKAN KLIK DI SINI

Print Friendly

No Comments Yet.

Leave a comment